Coal Bed Methane (CBM)

Diposting : Rabu, 30 November 2011 01:46  


Penelitian tentang potensi gas metana yang terkandung dalam batubara mulai dilakukan pada tahun 2003 dalam bentuk pilot projek 5 (lima) sumur uji Coal-bed Methane (CBM) di Lapangan Rambutan, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan yang merupakan wilayah kerja PT. Medco E&P Indonesia. Lapisan-lapisan batubara target berada pada kisaran kedalaman 600-1000 meter. Berbeda dengan proses pengembangan sumur reservoar migas, produksi gas dari reservoar CBM diawali dengan produksi air atau disebut sebagai dewatering.

 

 

Pada pelaksanaan dewatering di kelima sumur CBM, gas telah mulai keluar dari dua lapisan batubara dengan laju produksi yang masih sangat kecil. Hasil pengujian tekanan yang telah dilakukan dengan menggunakan peralatan EMR di masing-masing seam, memperlihatkan adanya tekanan yang cukup tinggi sekitar 500 psi, setara dengan 1150 ft tinggi kolom fluida air di dalam sumur, dimana air yang dihasilkan pada saat awal pengujian masih bersifat payau dengan konsentrasi Chloride (Cl-) yang terukur sebesar 400 ppm. Dari hailakukan dengan menggunakan metode pengangkatan pompa angguk atau sucker rod pump (SRP). Hasil simulasi reservoar Lapangan CBM Rambutan memiliki potensi kandungan gas metana lebih kurang sebesar 30.600 MSCF per sumur, 185.000 MSCF untuk daerah Pilot dan 5.5 X 106 MSCF untuk seluruh daerah luasan simulasi, yang dapat diproduksikan selama 20 tahun. Kemampuan produksi maksimum CBM Lapangan Rambutan lebih kurang sebesar 7.4 MSCF per hari untuk satu sumur, 37.5 MSCF per hari untuk daerah pilot dan 1.120 MSCF per hari untuk seluruh daerah luasan simulasi, yang dicapai dalam jangka 13.7 tahun.

 

 

 

Kunjungan Kerja MESDM ke Lapangan Rambutan Pendopo Sumsel 10-04-05  
 

 

Pilot Project Pengembangan CBM di Indonesia (Badan Litbang ESDM) dipicu oleh hasil asesmen sumberdaya CBM tahun 2003, yang memkirakan bahwa sumber daya CBM di Indonesia sebesar 453 TCF yang tersebar pada 11 cekungan batubara dan migas, salah satunya Cekungan Sumatera Selatan sebesar 180 TCF.

 

Kegiatan Pilot Project dimulai pada Tahun 2003 dengan melakukan kegiatan antara lain Studi  Kelayakan, Studi Lingkungan, Kajian Regulasi (Kepmen CBM). Selanjutnya pada tahun 2004 dimulai Pemboran sumur CBM pertama hingga kedalaman 600 meter dengan mengambil sejumlah core pada seam batubara untuk diteliti potensinya. Pada tahun 2004 tersebut juga dihasilkan Draft Kepmen CBM yang disampaikan kepada Direktorat Jenderal Migas.

 

Pada periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2006 dilanjutkan dengan pemboran 4 sumur CBM (Sumur CBM 2, 3, 4, dan 5) kedalaman rata-rata mencapai 1000 meter sampai menembus lapisan batubara pada seam-5. Pada tahun 2006 diterbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 33 tahun 2006 tentang Pengusahaan Gas Metana Batubara (CBM), yang merupakan hasil kajian regulasi CBM yang telah dimulai pada tahun 2003.

Tahun 2007 ini dilakukan penelitian dengan kegiatan ke tahap penyelesaian sumur dan pelaksanaan operasi dewatering, meliputi perforasi dan fracturing serta uji lapisan dibeberapa sumur pada seam yang telah terpilih. Pada Tahap Dewatering air terproduksi dari keempat Sumur CBM mempunyai konsentrasi Chloride (Cl-) yang terukur sebesar 400 ppm. Kandungan gas metana berkisar antara 93 – 97 %, dan gas yang terproduksi di flare.

 

Keberhasilan pembuktian gas dari pilot project CBM, telah mendorong kepercayaan industri untuk mengembangkan sumber daya CBM ini, dengan telah ditandatanganinya KKS CBM Pertama pada  tanggal 27 Mei 2008 dan tahun 2008 juga dicanangkan sebagai tahun CBM. Sampai dengan tahun 2011 Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menghasilkan 42 Kontrak KKS CBM.