Forum Knowledge Sharing: Upaya Peningkatan Nilai Tambah Pengolahan Mineral

Diposting : Jum'at, 05 Mei 2017 17:03  


CIPATAT - Bertempat di Ruang Serba Guna Pilot Plant Pengolahan Mineral Cipatat, Jawa Barat pada Kamis (4/5/2017) Puslitbang tekMIRA mengadakan forum knowledge sharing (FKS) bertema Pengolahan Mineral Logam dan Mineral Industri untuk Peningkatan Nilai Tambah. Acara yang dihadiri oleh para peneliti dan perekayasa dari kelompok litbang pengolahan mineral ini, selain sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, juga sebagai media transfer pengetahuan dari peneliti senior (madya) kepada para junior (muda). Upaya ini perlu terus dilakukan agar pengetahuan yang dimiliki para madya, terutama yang akan memasuki masa purnabakti, tidak hilang begitu saja dan dapat terus dikembangkan oleh peneliti muda sehingga menjadi lebih inovatif serta berdaya jual tinggi.

FKS ini terbagi menjadi dua sesi, yaitu pengolahan mineral logam dan pengembangan mineral industri. Narasumber pengolahan mineral logam adalah seorang profesor riset di bidang pemrosesan mineral, Prof. I Gusti Ngurah Ardha. Sementara, Ir. Hadi Purnomo, peneliti madya yang sudah 35 tahun mendalami pengolahan mineral, hadir sebagai narasumber pada sesi pengembangan mineral industri. 

Disebutkan bahwa pengolahan atau benefisiasi mineral secara umum, terdiri atas kominusi, pemisahan berdasarkan densitas, pemisahan berdasarkan sifat magnetik, pemisahan berdasarkan  konduktivitas, dan pemisahan berdasarkan sifat permukaan mineral. Salah satu teknologi mineral logam yang berkembang saat ini dan berpotensi memberikan manfaat luas adalah teknologi flotasi.

“Peluang inovasi bagi peneliti muda dalam mengembangkan berbagai teknologi peningkatan nilai tambah mineral adalah teknologi flotasi, yaitu suatu teknologi yang bertujuan mengolah mineral berkadar rendah menjadi mineral berkadar tinggi sesuai persyaratan peleburan,” demikian disampaikan sang Profesor Riset.

 

 pengelolaan mineral  pengelolaan mineral

Narasumber dan Peserta FKS Aktif Berdiskusi

Dalam hal pengolahan mineral industri, beberapa potensi sumber daya yang dapat dikembangkan di Indonesia diantaranya belerang, fospat, bentonit, feldspar, kaolin, zeolit, tras, dan pasir kuarsa. Dewasa ini mineral industri dianggap kalah pamor dengan mineral logam. Jika melihat potensi nilai ekonomi yang tinggi dan teknologi pengolahan yang relatif sederhana, penelitian bertema mineral industri seharusnya dapat menghasilkan inovasi yang lebih mudah diimplementasikan. Hal ini dikarenakan produk yang dihasilkan dalam mineral industri merupakan produk yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat luas.

Contohnya adalah pengolahan zeolit di bidang pertanian, sebagai soil conditioner, yakni membantu petani melakukan efisiensi penggunaan pupuk dalam mengolah lahannya. Selain itu terdapat pengolahan tras, untuk bahan baku pembuatan semen murah (biasa disebut semen pozolan kapur), yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi karena mampu menghemat biaya produksi melalui teknologi yang sederhana.

Teknologi pengolahan yang dikembangkan secara sederhana memungkinkan pengolahan mineral industri dengan memberdayakan industri kecil menengah (IKM). Harapannya adalah para IKM ini dapat menyuplai kebutuhan industri besar.

“Idealnya industri besar disuplai oleh IKM, namun permasalahan yang dihadapi IKM pada umumnya adalah ketidakmampuannya dalam memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan oleh industri besar, sehingga industri besar masih memilih untuk impor. Inilah yang menjadi tantangan bagi peneliti di bidang pengolahan mineral industri untuk dapat melakukan inovasi teknologi yang dapat diaplikasikan oleh IKM sehingga mampu memenuhi spesifikasi industri,” demikian disampaikan Hadi.

Di akhir FKS ini, kedua narasumber berharap bahwa kedepannya Puslitbang tekMIRA tidak hanya mengerjakan penelitian yang berorientasi pada skala industri besar saja. Penelitian dengan target pengguna skala IKM juga memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi apabila dilakukan secara serius dan konsisten. Selain itu, proses inovasi juga akan berlangsung secara berkelanjutan dan teknologi yang dihasilkan akan semakin berkembang. (DC/AR)