KESINAMBUNGAN ENERGI UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Diposting : Senin, 10 April 2017 18:08  


 

FX Sutijastoto

Yogyakarta – “Energi harus menjadi modal pembangunan sebagaimana diamanatkan dalam PP 79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasioanl dan PP 22/2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), sehingga gas dan batubara harus dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri bukan hanya sumber pendapatan melalui ekspor, penyelarasan target fiskal melalui penerimaan nilai tambah, dan multiplier effect ekonomi,” demikian disampaikan Kepala Badan Litbang ESDM, F.X. Sutijastoto dalam Seminar Nasional “Menuju Indonesia Adidaya, Menjawab Tantangan Energi, Air, dan Pangan Masa Depan” yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta pada Sabtu (08/04/2017).

 

Tujuan pelaksanaan Seminar Epsilon 2017 adalah menghimbau kepada masyarakat mengenai kondisi sumber daya yang ada dan memacu semangat masyarakat untuk berinovasi dalam menghadapi krisis energi, air, dan pangan di Indonesia. Seminar yang turut menghadirkan narasumber Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Eni Harmayani, Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas, Wahyuningsih Darajati, M.Sc., Tenaga Ahli Balai Besar Teknologi Konservasi Energi, Dr. As Natio Lasman, Direktur Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif BAPETEN, Zainal Arifin, M.T., dan Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Prof. Catur Sugiyanto, Ph.D. diikuti oleh lebih dari 250 peserta.

 seminar epsilon 2017

Para Pembicara dan Moderator dalam Seminar Epsilon 2017

 

Ketergantungan Indonesia terhadap minyak masih tinggi. Porsi bauran energi minyak saat ini sebesar 43% dan di tahun 2025 akan diturunkan hampir separuhnya. Walaupun peranannya turun, namun by volume kebutuhan minyak masih meningkat. Kebutuhan minyak tahun 2017 sekitar 1,6 juta barel per hari (bph), padahal produksi minyak Indonesia kurang dari 800 ribu bph. Pengembangan gas Indonesia ke depan pun banyak terkendala. Oleh karena itu pengembangan energi fosil ini membutuhkan eksplorasi besar-besaran.

 

Untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut, maka perlu melihat sisi energi baru dan terbarukan (EBT). Indonesia memiliki banyak potensi terutama biofuel. Pengembangan biofuel ini dapat dikolaborasikan dengan pangan, misalnya sorghum. Target bauran EBT tahun 2025 sebesar 23% berasal dari PLTA dan PLTM/H, surya, panasbumi, angin, bioenergi (bahan bakar nabati), dan energi laut.     

Sutijastoto menambahkan bahwa Badan Litbang ESDM sedang berupaya mengembangan daerah sub-optimal untuk bahan baku bioenergi yang tidak memerlukan banyak air, yaitu Pongamia untuk biodiesel di NTB dan NTT, kemiri sunan dan Sorghum untuk pilot project di Pleret, Bantul.

 

Litbang ESDM berusaha menjadi inter greater, yakni menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi, antara lain dengan UPN berupa pilot project biofuel dan Pusat Studi Energi (PSE) UGM untuk mengembangkan energi laut khususnya wilayah kepulauan. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan perekonomian maritim.  

 

Di akhir paparannya, Sutijastoto berpesan “Pentingnya kita melaksanakan koordinasi yang telah ditetapkan dalam instrumen kebijakan, dan hal inilah yang berperan sebagai koridor dalam nexus sehingga berjalan sinergi.” (AR)