KOMERSIALISASI HASIL LITBANG MELALUI KEBUN ENERGI

Diposting : Senin, 10 April 2017 17:49  


Yogyakarta – Badan Litbang ESDM melalui P3TKEBTKE melakukan kerja sama dengan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) dan Pemerintah Kabupaten Bantul dalam mengembangkan biofuel. Pengembangan biofuel ini telah dimulai dengan penanaman kemiri sunan dan Sorghum di kebun energi di wilayah Pleret, Bantul, DIY dengan skema pembiayaan APBN. Untuk penerangan di kebun energi, para peneliti P3TKEBTKE memasang solar panel dengan memanfaatkan energi surya.

 

Hasil penelitian dan pengembangan teknologi dari Badan Litbang ESDM ini memerlukan langkah lebih jauh dari hanya menjadi riset semata menjadi lebih bermanfaat nyata bagi pembanguanan bangsa, khususnya peningkatan ketahanan energi dan nilai tambah sektor ESDM. Upaya perubahan paradigma lembaga litbang dari cost centre menjadi profit centre terus dilakukan, artinya hasil-hasil litbang harus dimanfaatkan atau dikomersialkan oleh industri sebagai user. Yang perlu ditekankan dalam komersialisasi hasil litbang adalah bukan pada profit produk semata melainkan pada transfer teknologi.

 

Langkah awal dalam mendukung komersialisasi, yakni kajian keekonomian terhadap produk atau teknologi litbang. Saat ini sedang dilakukan kajian keekonomian untuk komersialisasi fasilitas pengolahan bioethanol berkapasitas 30 ribu kilo liter per tahun. Hasilnya nanti diharapkan dapat digunakan sebagai campuran BBM. Melalui skema ini, apabila diterapkan di wilayah terpencil dengan infrastruktur terbatas, seperti di wilayah timur Indonesia, maka dapat membuat biaya pokok penyediaan BBM menjadi lebih efisien.

sorgum kemiri sunan

Kebun Energi Sorghum dan Kemiri Sunan di Pleret, Bantul

 

Kebun energi seluas 6,8 Ha di Pedukuhan Gunung Kelir, Desa Pleret, Kabupaten Bantul sebagai kebun percontohan mulai dikembangkan pada Agustus 2015. Kebun energi ditanami kemiri sunan dengan jarak tanam 6x6 m dan sorghum sebagai tanaman sela diantaranya. Tenaga kerja yang terlibat untuk pemeliharaan sehari-hari hingga pemanenan berjumlah 4-6 orang.

 

Bioethanol dari sorghum sangat potensial di Indonesia dan dalam satu tahun bisa tiga kali panen. Walaupun secara volume, jika dibandingkan dengan tebu jauh lebih sedikit produktifitasnya untuk menghasilkan bioethanol, namun dengan tiga kali panen setahun maka produktifitasnya dapat melebihi tebu. Kemiri sunan sebagai penghasil biodiesel mulai berbuah pada usia 4-5 tahun dan setelah usia 6 tahun setiap pohon untuk menghasilkan 200-300 kg biji kering/tahun. Usia tanaman dapat mencapai 100 tahun dengan masa produktif lebih dari 75 tahun.

 

Saat ini, produksi Sorghum dimanfaatkan oleh UPNVY untuk keperluan penelitian bagi mahasiswa, sementara P3TKEBTKE melakukan upgrading mesin press batang sorghum, uji kinerja unit produksi biodiesel mobile, dan analisis berkelanjutan dari pengembangan bahan bakar nabati. (AR)