Pengembangan Proses Upgrading Brown Coal (UBC) dan Operasional Demonstration Plant

Diposting : Selasa, 06 Maret 2012 10:59  


Pengolahan batubara peringkat rendah menggunakan teknologi penurunan kadar air telah diteliti dan dikembangkan. Salah satunya adalah upgraded brown coal (UBC), yaitu suatu proses penurunan kadar air bawaan batubara peringkat rendah sehingga nilai kalor batubara tersebut meningkat. Dibandingkan dengan teknologi upgrading lainnya, UBC mempunyai keuntungan karena prosesnya dilakukan pada temperatur dan tekanan relatif rendah, yaitu 150-160C pada 0,2-0,3 MPa. Proses UBC mampu meningkatkan nilai kalor beberapa batubara peringkat rendah yang ada di Indonesia, dari 4.800-5.200 kal/g menjadi 6.400-7.100 kal/g, dengan nilai rate of investment (ROI) 11% untuk 10 tahun atau 14% dalam 15 tahun dengan payback period ± 6 tahun (Hudaa, 2008 ).

Penelitian pengembangan proses UBC dilakukan untuk mendapatkan teknologi proses yang lebih efisien secara teknis dan ekonomis pada skala laboratorium maupun skala pilot di Palimanan dan mendukung kegiatan operasional UBC demonstration plant di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan untuk batubara Mulia sebagai persiapan ke skala komersial.

Percobaan proses UBC skala laboratorium dilakukan dengan menggunakan batubara Berau. Hasil percobaan proses UBC dengan variabel jenis media dan zat aditif pada temperatur 150ºC dan tekanan 3 atm didapat bahwa media pembuat slurry dengan menggunakan kerosene dan zat aditif penutup pori LSWR, menghasilkan batubara dengan kadar air yang terendah, yaitu 3,73%, sedangkan penggunaan kerosene dengan zat aditif aspal menghasilkan kadar air yang tertinggi, yaitu 4,89%. Berdasarkan nilai kalor, media pembuat slurry heavy aromatic baik dengan aspal maupun LSWR menghasilkan batubara dengan nilai kalori tertinggi dibandingkan dengan yang menggunakan media air maupun kerosene.

Untuk menjaga kestabilan kadar air pasca proses, dalam percobaan ini dicoba dua jenis zat aditif, yaitu aspal dan LSWR yang ditambahkan ke dalam media (air, kerosene atau heavy aromatic) sebanyak 0,5% berat. Proses UBC dengan menggunakan zat aditif aspal mempunyai kadar air yang lebih rendah dibanding batubara yang menggunakan LSWR untuk semua media. Hal ini menunjukkan bahwa aspal lebih efektif menutup pori batubara dibandingkan dengan LSWR sehingga penyerapan kembali air oleh batubara lebih sedikit.

Pengoperasian pilot plant UBC dilakukan dengan menggunakan batubara yang mempunyai kadar air total yang tinggi, yaitu batubara Berau, Kalimantan Selatan. Dalam percobaan kali ini tidak dilakukan proses pembriketan. Hasil menunjukkan bahwa batubara Berau dengan kadar air total dan air bawaan cukup tinggi, yaitu masing-masing 65,81% dan 12,69% dengan proses UBC kadar air total turun menjadi 3,25% (ar) dan kadar air bawaan menjadi 3,25%. Dengan turunnya air bawaan, nilai kalor naik dari 5.263 kal/g menjadi 7.021 kal/g atau terjadi kenaikan yang cukup signifikan, yaitu 33,40%.

UBC demonstration plant pada prinsipnya sudah berjalan dengan baik, karena kadar air batubara peringkat rendah yang berasal dari Mulia dapat diturunkan antara 68,5 dan 93,3%. Nilai kalor batubara hasil proses UBC hanya meningkat antara 9,46% sampai 12,15%. Selama tahun 2009, telah dilakukan percobaan sebanyak 12 kali (run). Kapasitas proses pada run 12 telah mampu mencapai 65% dari kapasitas keseluruhan (± 600 ton/hari).

Sebagai persiapan pembangunan pabrik UBC skala komersial, maka dibentuk working group dengan anggota dari berbagai instansi terkait, baik dari Jepang maupun Indonesia. Untuk mengantisipasi teknologi-teknologi lain sebagai pesaing, diperlukan strategi pemasaran dan penjualan batubara hasil proses UBC dan pencarian investor untuk memproduksi UBC.