Arsip Berita



Riset dan Inovasi Ketahanan Energi dalam Era Industri 4.0
Jakarta (10/7) – Bertempat di aula Gedung Penunjang Badan Litbang KESDM, Kebayoran Lama, Dewan Riset Nasional (DRN) bersama dengan Badan Litbang ESDM kembali mengadakan kegiatan focus group discussion (FGD) bertajuk “Sinergi Riset dan Inovasi pada Era Industri 4.0 untuk Mendukung Ketahanan Energi dan Pangan”. FGD ini dihadiri oleh ketua dan anggota Dewan Riset Nasional, pejabat dan peneliti dari kementerian/lembaga terkait, peneliti dari perguruan tinggi, pelaku bisnis bioenergi, serta asosiasi. 

FGD ini bertujuan untuk menghimpun pemikiran para pemangku kepentingan terkait pelaksanaan kebijakan bioenergi di Indonesia dalam rangka mendorong ketahanan energi dan pangan di Era Industri 4.0 selain itu, hasil dari FGD ini dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk penyusunan program riset dan litbang jangka panjang sampai dengan tahun 2025.

Wakil Ketua Dewan Riset Nasional, Sudharto P. Hadi dalam kesempatannya membuka acara, mengungkapkan bahwa sampai saat ini Indonesia masih sangat tergantung pada energi fosil yang memiliki konsekuensi efek rumah kaca, untuk itu diperlukan alternatif energi bersih yaitu EBT, namun hingga tahun 2017 jumlah bauran energinya baru mencapai 5%. Beliau juga mengungkapkan biofuel adalah alternatif yang menjanjikan, serta mengharapkan agar bauran EBT sebesar 23% pada tahun 2025 dapat tercapai sesuai kebijakan RUEN. 

Hadir sebagai keynote speaker, Kapus Litbang Teknologi Ketenagalistrikan EBT dan KE, Yunus Saiful Haq, menuturkan “Kebutuhan BBM Indonesia sebesar 1,6 juta barel per hari hanya bisa ditutupi produksi dalam negeri sebesar 800 ribu barel per hari, artinya, 50% kebutuhan BBM harus di impor. Untuk mengurangi impor BBM diperlukan alternatif bahan bakar lokal yang lebih murah, diantaranya biodiesel dan bioethanol”. Terkait hal tersebut, Yunus Saiful Haq menerangkan bahwa unit yang dipimpinnya telah mendukung pengembangan inovasi bioenergi dengan melakukan kerja sama riset dalam bentuk konsorsium dengan perguruan tinggi dan stakeholder dalam dan luar negeri seperti Jepang, Korea dan UNDP. 

Di akhir pidatonya beliau juga menyampaikan bahwa Badan Litbang ESDM yang telah bertransformasi menjadi Badan Layanan Umum siap mendukung sinergi riset dan inovasi energi pada era industri 4.0 sebagai perwujudan pelayanan kepada masyarakat yaitu memfasilitasi pasokan energi.

“Permen No 12 Tahun 2015 Tentang  Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati Sebagai Bahan Bakar Lain adalah salah satu instrumen pemerintah untuk mendukung pemanfaatan bahan bakar nabati dan meningkatkan bauran EBT” ujar Kasubdit Keteknikan dan Lingkungan Bioenegi, Dr. Faridha, sebagai narasumber pertama, selain itu dalam paparannya beliau juga mengungkapkan bahwa di tahun 2018. ditargetkan produksi Biodiesel mencapai 3,92 juta kilo liter, serta upaya pemerintah meningkatkan bauran energi dengan mendorong PLN membeli listrik dari sumber – sumber EBT.

Narasumber selanjutnya Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Kementerian Pertanian,  Agus Wahyudi, mengungkapkan bahwa potensi Bioethanol yang berasal dari kelapa sawit dan tebu di Indonesia sangat besar, dengan jumlah tandan kosong sawit sebesar 140 juta ton yang dapat diolah menjadi bioethanol, dan produksi tebu sebesar 138 juta ton memiliki potensi produksi 1,5%-1,8% bioethanol. 

Sesuai dengan tajuk FGD yang juga menyinggung era industri 4.0, hadir juga narasumber praktisi ahli teknologi informasi, Aswin Sasongko. Dalam paparannya beliau menyampaikan bahwa “Era Industri 4.0 adalah dimana semua kegiatan industri sudah menggunakan komputer yang bisa saling berkoordinasi dengan memanfaatkan cloud computing dan artificial intelligent (AI) sebagai penggerak utamanya” ujar beliau. Prinsip otomatisasi dalam industri 4.0 dapat diaplikasikan di pabrik pengolahan bioenergi untuk mengatasi tingginya pertumbuhan permintaan dan efisiensi.

Selain narasumber dari akademisi dan kementerian / lembaga, hadir juga narasumber dari industri komersil yaitu Jaya Wahono, Direktur PT Clean Power Indonesia ini menyampaikan bahwa perusahaannya bekerja sama dengan lembaga pemerintah dan bantuan dana asing telah mengembangkan bioenergi dari pengolahan bambu dan telah di aplikasikan di pulau Mentawai, Sumatera Barat untuk bahan bakar pembangkit listrik. Menurut Jaya Wahono tanaman bambu mudah ditanam dan ditemukan di Indonesia, sifatnya yang tumbuh kembali apabila batangnya dipotong dan mudah dirawat, menjadikan bambu sebagai bahan baku bioenergy yang sustainable.

Selanjutnya acara ditutup dengan pemaparan dari anggota Dewan Riset Nasional, Dr. Arnold Soetrisnanto, tentang kondisi pengelolaan DRN saat ini dan tugas DRN dalam perumusan arah dan prioritas utama pembangunan IPTEK di Indonesia.

Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202