Arsip Berita



Badan Litbang ESDM Memulai Uji Ketahanan Biodiesel B40/B50
PPPTMGB “LEMIGAS”, Badan Litbang ESDM memulai uji ketahanan biodiesel B40/B50 pada mesin pada Engine Test Bench di laboratorium PPPTMGB “LEMIGAS” selama 1.000 jam. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kajian penerapan bahan bakar biodiesel B40/B50, melalui uji karakteristik, penyimpanan, unjuk kerja dan ketahanan mesin diesel pada engine test bench serta aspek tekno ekonomi.

“Uji ketahanan bahan bakar ini dijadwalkan berlangsung 20 jam per hari selama 50 hari”, ungkap Dadan.

Program ini disampaikan Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana pada Rapat Progress Pelaksanaan Pengujian B-40/50 di Jakarta (22/7) 2020. Pertemuan ini dihadiri para pemangku kepentingan terkait, di antaranya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Pertanian, PT Pertamina, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesaia (Aprobi) serta Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO). 


“Kajian teknis dalam rangka mendukung pemanfaatan B40/B50 untuk meningkatkan pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin diesel”, ungkap Dadan.

Dadan menambahkan pertemuan ini juga untuk meminta masukan dan persetujuan dari para pemangku kepentingan agar upaya pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan bahan bakar nabati dapat disepakati semua pihak. 

Kepala PPPTMGB “LEMIGAS” Setyorini Tri Hutami menguraikan bahwa kajian ini dilakukan secara bertahap, mulai dari uji karakteristik formulasi, uji kinerja terbatas pada mesin, serta uji ketahanan bahan bakar.



Hasil pengujian ini ditargetkan menghasilkan rekomendasi teknis, baik terhadap mutu biodiesel maupun pertimbangan tentang aspek keekonomiannya. Kajian keeknonomian mencakup sejumlah aspek, di antaranya proyeksi permintaan (demand) biodiesel, analisas pasokan biodiesel, harga komponen, proyeksi insentif dan subsidi pemerintah terhadap bahan bakar yang baru. 

Berdasarkan kajian secara ekonomi, penggunaan bahan bakar solar menurun akibat Covid-19, dan diperkirakan masih berlangsung beberapa waktu. Para peneliti memproyeksikan permintaan (demand) akan turun sekitar lima persen dari proyeksi semula. Pada kondisi tersebut, konsumsi FAME untuk program B30 turun dari 9,8 juta kilo liter, menjadi 8,1 juta kilo liter. Perekonomian paska pandemi Covid19 diharapkan dapat segera pulih sehingga, sehingga permintaaan pada tahun 2025 akan sama seperti proyeksi normal. 

Rini melanjutkan, rencana peningkatan kompososisi solar dari B30 menjadi B40, tentu saja menimbulkan konsekuensi peningkatan kebutuhan bahan bakunya, yakni CPO (crude palm oil). Apabila kebutuhan CPO domestik non biofuel diasumsikan konstan dan pertumbuhan ekspor rata-rata 1,3 persen per tahun, maka kebutuhan CPO meningkat pada tahun 2022. Kebutuhan ini juga termasuk untuk memenuhi program green gasoline, yang sudah mulai diinisiasi. Kapasitas produksi biodiesel diperkirakan masih mencukupi kebutuhan biodiesel sampai 2025.

Komponen B40 terdiri dari FAME, DPME dan HVO, dimana untuk memenuhi kebutuhan B40 sesuai formulasi diperlukan tambahan kapasitas produksi. Harga komponen B40 yang paling rendah FAME (fatty acid methyl ester), disusul DPME (distilate palm methyl ester), dan HVO (hidrotreated Vegetable Oil).  

Dengan mengacu pada proyeksi volume biodiesel serta harga HIP (harga indeks pasar) solar dan HIP BBN (bahan bakar nabati) biodiesel, maka kebutuhan insentif diperkiran terjadi pada periode 2020-2025 sebesar Rp 42,2 triliun, sedangkan periode 2030-2032 sebesar Rp. 6,3 triliun. 


Rini menambahkan potensi penghematan devisa pada program B40 dengan skenario moderat sekitar USD 8 miliar untuk proyeksi pada tahun 2025. 


Ketua Tim Kegiatan, Sylvia Ayu Bethari memaparkan sebelumnya Kelompok Pelaksana Penelitian dan Pengembangan (KP3) Aplikasi Produk PPPTMGB “LEMIGAS” telah melakukan uji karakteristik dan uji kinerja secara terbatas untuk menentukan formulasi bahan bakar yang akan dites pada uji ketahanan. 

Peneliti yang juga menjabat sebagai Manager Pemasaran Teknologi KP3 Aplikasi Produk ini menguraikan 
formulasi uji coba yang akan digunakan pada B40 berasal dari minyak solar 48 (B0), biodiesel, Distillated Biodiesel dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO). 



Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202