Arsip Berita



Badan Litbang ESDM Serah Terima Alih Status BMN Gasmin dan Pengolahan Bioethanol Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana menyaksikan penandatangan serah Terima Alih Status Penggunaan Barang Milik Negara (BMN) antara Badan Litbang ESDM, Kementerian ESDM dan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, di Yogyakarta (28/8).

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, Hermansyah dan Rektor UPN Veteren Yogyakarta, *M. Irhas Effendi* menandatangani serah terima Gasmin, sedangkan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKEBTKE), Chrisnawan Anditya dengan Rektor UPN "Veteren" Yogyakarta, menandatangani *Pernyataan* Bersedia Menerima BMN berupa unit pengolahan bioethanol.

Serah terima BMN ini terdiri dari enam unit Gasifier Mini Batubara (Gasmin) dan penyerahan BMN berupa satu unit pengolahaan bioethanol.

Gasmin adalah teknologi hasil pengembangan Kelompok Pelaksanana Penelitian dan Pengembangan Pustlitbang Tekmira. Inovasi ini telah diimplementasikan di UKM/IKM percontohan di D.I. Yogyakarta, yakni tiga unit di industri peleburan aluminium, satu unit industri makanan (tahu), satu unit industri obat dan bahan kimia (minyak atsiri) dan satu unit di industri batik (Batik Pandawa). Dari ke enam industri tersebut, lima IKM/UKM kecuali minyak atsiri, telah menggunakan GasMin sebagai bagian dari alat operasional produksi.

Dadan menjelaskan inovasi Gasmin sudah mendapat beberapa penghargaan dan diakui secara publik secara banyak, tinggal pengakuan dari “pasar”. Peluang pasar pemanfaatan Gasmin cukup menjanjikan di kota Yogyakarta dan sekitarnya.

“Berdasarkan data hasil survei Puslitbang Tekmira, ada sekitar 97 unit IKM yang dapat menggunakan Gasmin yaitu 15 unit IKM makanan dan minuman, 46 unit IKM batik, dan 36 IKM alumunium”, kata Dadan.

Dadan menjelaskan akan ada perhatian khusus terhadap kepastian suplai batubara bagi para pengguna Gasmin. Jika ada yang mengusahakan pasokan batubara, perlu diperhitungkan lagi agar harga dan kebutuhannnya memenuhi. Dadan mendorong agar bahan bakar Gasmin dapat dikombinasikan dengan biomassa, untuk menjamin kelanjutan suplai batubara.




“Campuran *biomassa* bisa menggunakan limbah pertanian dan perkebunan PTPN atau Perhutani”, kata Dadan.

Dadan mengharapkan agar unit bioethanol dapat dimanfaatkan UPN Yogyakarta.  Ia juga mendorong kedua pihak untuk membuat proposal bersama terkait penelitian bioethanol. Bahan bakar pengganti gasolin ini perlu perhatian sendiri, karena saat ini pemerintah masih mengimpor gasolin baik dalam bentuk crude maupun produk gasolin. Perlu dukungan dan insentif yang kuat agar dapat terwujud, mengingat Indonesia didukung oleh kondisi alam dan agro yang cocok untuk menghasilkan bioethanol.

Rektor UPN Veteran Yogyakarta, M. Irhas Effendi menjelaskan kegiatan penelitian dan pengembangan sering kali berada di tengah. Terkadang teknologi sudah siap, tetapi bahan bahan baku belum siap. Kadang kala bahan baku siap dan teknologi sudah siap, ternyata pasar belum siap. Ini perlu menjadi perhatian mengingat tata kelola pasar masih belum siap, mungkin dari kuantitas, harga dan pemanfaatannya.

Pada kesempatan ini pemilik IKM Batik Bambang Sumardiono menyampaikan *testimoni* setelah menggunakan gasmin untuk proses plorotan batik.  Bambang mengaku sangat terbantu selama menggunakan Gasmin.

Selama 25 tahun, pemilik IKM Batik *Nakula Sadewa* ini menggunakan kayu bakar untuk melakukan plorotan batik. Setelah beralih ke batubara, ia mengakui jika efisiensi Gasmin cukup tinggi, sehingga dapat menghemat biaya plorotan setiap kain batik secara cukup signifikan. Gasmin dapat menghasilkan suhu lebih tinggi sehingga kualitas plorotan lebih sempurna. Lilin pada batik kini juga dapat diolah kembali, untuk dipergunakan pada pembuatan batik berikutnya.

Selama masa pandemi, Bambang mengeluhkan pesanan kain batik turun drastis, sehingga penggunaan Gasmin menjadi tidak efisien. Biaya pengoperasian Gasmin baru dapat efisien untuk pemlorotan minimal 40-50 potong kain. Untuk sementara pemlorotan pun kembali dilakukan secara manual dengan kayu bakar.

Bambang mengharapkan agar Puslitbang Tekmira merancang Gasmin berkapasitas lebih kecil, sehingga  para pengrajin batik dapat melakukan plorotan dengan jumlah kain terbatas.Ia juga menyarankan desain Gasmin yang mudah dimobilisasi dengan kendaraan, sehingga setiap IKM dapat bergantian menggunakan alat ini.



Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202