Arsip Berita



Badan Litbang ESDM Siapkan Evaluasi Lapangan Panas Bumi Cikakak
Badan Litbang ESDM sedang mempersiapkan pelaksanaan kegiatan Evaluasi Well Tergeting, Peer Review, Analisis Konseptual Model serta Simulasi Numerik pada delapan lokasi lapangan panas bumi, yang rencananya akan dieksplorasi pemerintah.   

Lapangan panas bumi tersebut meliputi lapangan Cisolok (Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat), Jailolo, (Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara), Bittuang (Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan), Nage (Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur), Ciremai (Kabupaten Kuningan, Jawa Barat), Marana, (Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah), Gunung Endut (Kabupaten Lebak, Banten) serta Sembalun (Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat).

Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana menyampaikan untuk tahap awal Badan Litbang ESDM akan mengevaluasi lapangan panas bumi Cisolok. Berdasarkan data Badan Geologi, titik koordinat lokasi lapangan panas bumi yang akan dievaluasi menjadi lapangan Cikakak 1 dan Cikakak 2. 

Dadan menyoroti kegiatan ini harus disiapkan dengen detil sedari awal, terutama memperhitungkan potensi risiko dan mitigasinya. Hal ini disampaikan Dadan saat memimpin pertemuan untuk membahas persiapan pelaksanaan kegiatan evaluasi well tergeting, peer review, analisis konseptual model serta simulasi numerik pada delapan lokasi lapangan panas bumi yang akan dieksplorasi pemerintah di Cisolok, Sukabumi (10/10). 


“Potensi kendala yang mesti diantisipasi antara lain kekurangan data, belum tersedianya peralatan atau perangkat lunak yang dibutuhkan, perubahan lokasi lapangan panas bumi, dampak Covid-19 serta pendanaan”, kata Dadan.  


Kekurangan data akan menyebabkan model konseptual dan well targeting yang disiapkan tidak optimal. Peralatan atau software yang dibutuhkan belum tersedia dapat mempengaruhi proses pengolahan data. Perubahan lokasi lapangan panas bumi juga berdampak terhadap penundaan pekerjaan, sebelum data lapangan tersedia. 

Dampatk Covid-19 juga perlu dipertimbangkan. Pelaksanaan pekerjaan bisa saja tertunda dan terhambat karena pemerintah daerah menerapkan pembatasan sosial berskala besar atau adanya personil yang teridentifikasi Covid-19. 

Dadan juga menyoroti kebutuhan tenaga ahli sangat diperlukan, mengingat jumlah sumber daya di BLU P3TKEBTKE sangat terbatas. Untuk itu perlu dipertimbangkan penambahan tenaga ahli yang kompeten. 



Kepala P3TKEBTKE, Chrisnawan Anditya menjelaskan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi akan membentuk tim Kementerian ESDM yang terdiri dari Badan Geologi, Ditjen EBTKE dan Tenaga Ahli Menteri ESDM yang akan bersinergi untuk menilai pelaksanaan kegiatan ini. 

Chrisnawan menjelaskan BLU P3TKEBTKE  tengah melakukan peer review terhadap usulan rencana survei, data hasil penyelidikan rinci (survei geologi, geokimia, dan geofisika), hingga model konseptual pada delapan lokasi tersebut.  Tim BLU P3TKEBTKE juga akan menentukan titik bor (well targeting) sumur ekplorasi dari hasil peer review pada masing-masing lokasi. 

Pada peer review 2, tim akan mengevaluasi tiga kegiatan. Pertama, evaluasi data hasil survei, yang meliputi kelengkapan dan kualitas sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang berlaku. Kedua mengevaluasi konsistensi hasil interpretasi geologi, geokimia dan geofisika. Ketiga, mengevalusi model konseptual sistem geothermal, meliputi beberapa komponen seperti indikasi sumber panas, struktur permeabel, batuan reservoir, hidrologi (upflow-outflow), karakteristik (asal-usul) fluida, temperatur reservoir, geometri reservoir (batas dan kedalaman puncak reservoir).

Chrisnawan melanjutkan, penentuan titik bor (well targeting) akan mempertimbangkan beberapa aspek teknis maupun non-teknis. Aspek teknis seperti zona dengan kemungkinan temperatur yang tinggi (high temperature), struktur-struktur yang permeabel (high permeability) serta fluida reservoir yang netral (benign fluid) menjadi pertimbangan utama dalam menentukan titik bor.

Aspek non-teknis seperti keberadaan jalan akses, lokasi sumber air, hingga kemiringan permukaan juga menjadi hal-hal tambahan yang perlu diperhatikan. Pekerjaan well targeting ini juga meliputi pembuatan basic well design. 

Peneliti PPPTMGB “LEMIGAS”, Panca Wahyudi menjelaskan Badan Geologi sudah memiliki data survei terdahulu. Namun data tersebut perlu dievaluasi ulang untuk meyakinkan karena reservoir panas bumi berbeda dengan migas. Akurasi penentuan titik pengeboran harus sangat tepat, bahkan tidak boleh bergeser sampai 10 meter. 

Berdasarkan pengalaman di pengeboran migas, Panca mengusulkan agar Badan Geologi dapat merapatkan kembali data survei. Merujuk data survei di Mataloko, pemetaan data dengan jarak 50 km menghasilkan data pemetaan sebanyak 50 titik, dengan jarak per titik antara 500 meter hingga satu kilometer. Jarak ini terlalu jauh dan dapat mengakibatkan lokasi reservoir meleset. 

Panca Wahyudi menjelaskan, untuk kegiatan survei ini, PPPTMGB “LEMIGAS” akan memodifikasi Rig Lemigas, agar dapat melakukan pemboran deep slim hole. Ia juga menekankan infrastruktur jalan perlu menjadi perhatian. Lokasi sumur berada di tebing yang curam dan akses jalan menuju ke sana hanya jalan setapak. 


Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202