Arsip Berita



Berburu Logam Langka Dari Abu Batu Bara
Limbah sisa pembangkit listrik batu bara yang selama ini dipandang sebelah mata, ternyata memiliki kandungan mineral berharga. Ada unsur logam tanah jarang di dalamnya. Lewat ekstraksi tertentu, perburuan logam langka ini akan sekaligus menjawab masalah lingkungan akibat abu batu bara yang terus menumpuk.

Deru penolakan terhadap pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU, nyaris tak pernah surut. Musababnya, pembakaran batu bara yang menyisakan tumpukan abu, dinilai dapat membahayakan lingkungan hidup yang ada di sekitar pembangkit. 

Tapi ternyata, siapa sangka, berdasarkan kajian Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, abu limbah batu bara itu menyimpan kandungan logam tanah jarang alias rare earth, logam yang ramai diburu industri dunia.

Dalam aplikasinya, logam tanah jarang digunakan sebagai bahan baku perangkat berteknologi tinggi. Mulai dari pesawat tanpa awak atau drone, senjata, kapal antiradar, dan persenjataan canggih. Logam jenis ini tergolong langka karena produksinya di dunia sangat terbatas sekali.

Abu pada pembangkit listrik sendiri, merupakan material anorganik dari sisa pembakaran batu bara yang menghasilkan energi panas. 



Pembentukan abu batu bara pada PLTU

Setidaknya ada tiga jenis abu dari PLTU yang saat ini dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun, yaitu abu dasar (bottom ash), abu terbang (fly ash), serta abu gasifikasi batu bara. 

Abu batu bara umumnya tersusun dari unsur silika, aluminium, besi dan kapur. Kemudian ada juga beberapa unsur minor lain seperti titanium, magnesium, kalium, dan beberapa unsur ikutan dengan jumlah yang sangat kecil. Selain unsur-unsur tersebut, merujuk pada riset Puslibang Tekmira di sejumlah PLTU, abu batu bara terbukti memiliki kandungan mineral logam tanah jarang. 

Seperti sampel yang diambil dari pilot plant Palimanan, Jawa Barat misalnya, lewat analisis XRD, diketahui bahwa abu gasifikasi batu bara unggun mengandung mineral monasit–Ce, CePO4, yang merupakan mineral pembawa logam tanah jarang.

Selain di Palimanan, Puslitbang Tekmira juga meneliti sampel di PLTU Bukit Asam, PLTU Ombilin dan PLTU Cirebon, dengan menggunakan analisis XRD dan ICP. Adapun rincian temuan pada setiap objek penelitian tersebut dirangkum sebagaimana berikut :






Berdasarkan tabel tersebut, kadar unsur Ce, Y, La, Nd dan Sm terdapat pada abu terbang dan abu dasar. Tapi, secara kandungan tercatat lebih tinggi pada abu terbang. Hal ini dipicu karena logam-logam tanah jarang akan teruapkan pada suhu tinggi saat proses pembakaran batu bara, kemudian terkondensasi kembali saat bergabung dengan partikel padat abu terbang, dan tertangkap oleh unit electrostatic precipitator.
 
Untuk diketahui, logam tanah jarang berupa disprosium, neodimium, praseodimium, samarium dan kobal, jamak digunakan sebagai bahan baku magnet permanen yang kuat, pembuatan bagian turbin angin, dan bahan baku mobil hibrida. Sedangkan Nd, Ce, La, Eu dan Y digunakan sebagai komponen mobil listrik, yang kini mulai gencar dikampanyekan sebagai kendaraan masa depan yang  ramah lingkungan.  

Saat ini, pasokan neodimium-besi-boron mengalami banyak tantangan, salah satunya pasokan yang kerap terganggu. Melihat kondisi demikian, apabila Indonesia segera mengembangkan potensi dari abu batu bara ini, maka akan menjadi momentum yang sangat tepat.






Meskipun kandungan logam tanah jarang dalam abu batu bara tidak sebesar dalam mineral monasit, senotim atau basnasit, namun mengingat potensi produksi dari PLTU, gasifikasi batu bara serta industri keramik cukup besar,  yang diperkirakan akan mencapai lebih dari 14 juta ton per tahun, maka abu batu bara ini dapat  dipandang sebagai sumber logam tanah jarang yang menjanjikan. 

Selanjutnya, tinggal dipikirkan soal bagaimana upaya ekstraksinya, agar abu batu bara tidak hanya dipakai menjadi bahan bangunan atau material sebagaimana yang umum dilakukan.






Di luar itu, Kementerian Perindustrian telah mencanangkan program pemanfaatan logam tanah jarang ini untuk diolah sampai hilir, antara lain menjadi logam paduan (alloy), elektronik, baterai hibrid, magnet permanen, energi baru terbarukan, baterai telepon pintar (smartphone), industri kimia, katalis, semi konduktor, sistem kontrol, motor listrik, alat komunikasi dan telematika, infrastruktur telekomunikasi, hingga alat-alat pertahanan dan keamanan. 

Dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi, abu batu bara tidak akan lagi mengganggu lingkungan hidup, tapi justru dapat menjadi sumber logam yang berharga, yang menopang kebutuhan pasokan material green energy. Bahkan akan lebih optimal jika abu batu bara diekstraksi menjadi logam tanah jarang terlebih dahulu, kemudian ampasnya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan maupun kebutuhan lainnya. 




Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202