Arsip Berita



Fokus Mengembangkan BBN, Badan Litbang ESDM  Jalin Kerja Sama dengan ITB, PT Pertamina, BPDPKS dan PT Pupuk Indonesia

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) Badan Litbang ESDM dengan, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), PT Pertamina, PT Pupuk Indonesia dan Institut Teknologi Bandung serta MoU terkait Kerja Sama Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian Kepada Masyarakat di Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral antara Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral dan Institut Teknologi Bandung serta di Bandung , Rabu  (4/3).


Pada kesempatan pertama, Kepala Badan Litbang ESDM (Dadan Kusdiana), Direktur Penyaluran Dana BPDPKS (Edi Wibowo), Direktur Utama PT Pertamina (Nicke Widyawati) dan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Aas Asikin) serta Rektor ITB (Reini D. Wirahadikusumah) menandatangani nota kesepahaman tentang Kerja Sama Penelitian dan Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN).


Sinergi beberapa pihak ini meliputi bebarapa ruang lingkup. Pertama: penguatan kerja sama para pihak melalui perencanaan dan evaluasi teknis untuk penelitian, pengembangan dan pemanfaatan teknologi bahan bakar nabati (BBN). Kedua: peningkatan kompetensi dan keahlian sumber daya manusia dan/atau lembaga, penyediaan tenaga ahli, dan tukar-menukar informasi dan ilmu pengetahuan dalam upaya penelitian, pengembangan dan pemanfaatan teknologi BBN. Ketiga: optimalisasi dan pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan BBN berupa penelitian dan pengembangan pabrik percontohan bahan bakar diesel biohidrokarbon dan bioavtur. Kegiatan yang akan dilakukan adalah penyusunan Basic Engineering Design Package (BEDP), Front End Engineering Design (FEED) termasuk Detail Engineering Design (DED), Procurement,; Construction Commissioning dan uji operasi, dan uji produk. 


Keempat adalah pengoperasian dan pengelolaan pabrik percontohan bahan bakar diesel biohidrokarbon dan bioavtur. Ke lima: monitoring, evaluasi dan penyusunan kajian kelayakan teknis dan ekonomis pengembangan dan pemanfaatan teknologi bahan bakar nabati. Ke enam adalah strategi komersialisasi teknologi. 


Sebagai bagian dari tahapan komersialisasi teknologi proses nasional, pabrik percontohan diesel biohidrokarbon dan bioavtur denganmenggunakan katalis merah putih, akan dibangun di area pabrik PT Pupuk Sriwidjaja di Palembang, Sumatera Selatan. Pabrik ini dirancang untuk mengkonfirmasi parameter dan konfigurasi proses pada skala percontohan, serta uji produk yang terdiri dari uji properti, uji mesin statik, dan uji terbang  dengan bioavtur.


“Kapasitas pabrik yang diproduksi secara stand alone ini dirancang 1.000 liter diesel biohidrokarbon atau per bioavtur per hari, kemudian anggaran pembangunan dan pengoperasian pabrik selama satu tahun diperkirakan sekitar Rp 75 milyar, “ ujar Arifin, usai menyaksikan penandatanganan MoU tersebut


Bahan baku yang diolah berupa minyak nabati industrial (IVO, industrial vegetable oil) menjadi diesel biohidrokarbon. Pabrik ini juga dapat mengolah bahan baku berupa minyak laurat industrial (ILO, industrial lauric oil) menjadi bioavtur. 


Diesel biohidrokarbon adalah bahan bakar minyak yang diproduksi dari minyak nabati melalui proses hydrotreating untuk membuang kandungan oksigen sehingga diesel biohidrokarbon bersifat sangat serupa dengan minyak solar dari minyak bumi. Hal ini memberi peluang pemanfaatan Diesel biohidrokarbon yang jauh lebih besar didalam campuran dengan minyak solar dan lebih ramah lingkungan.


Status kegiatan saat ini pada tahap penyusunan Basic Engineering Design Package (BEDP)  dan konfigurasi teknologi sedang dilakukan oleh ITB, PT Pertamina dan PT Rekayasa Industri.  Detail Engineering Design (DED) dan pembangunan pabrik akan ditangani oleh PT Rekayasa Industri. Pembangunan pabrik diperkirakan akan selesai pada bulan Mei 2021. Uji  operasi pabrik dan pengujian produk dilaksanakan selama satu tahun, yaitu  Juni 2021 s.d. Mei 2022. 



Dadan menjelaskan, pabrik percontohan ini ini merupakan program jangka panjang pemerintah untuk mengolah minyak sawit mentah dan minyak inti sawit menjadi diesel biohidrokarbon dan bioavtur. 


“Pabrik percontohan ini merupakan rangkaian persiapan untuk pembangunan pabrik skala komersial”, lanjut Dadan.


Pabrik percontohan diesel biohidrokarbon dan bioavtur diharapkan dapat mengurangi impor bahan bakar avtur. Berdasarkan data dari BPPT Outlook Energi Indonesia tahun 2019, impor avtur pada tahun 2019 sekitar 2 juta kL dan akan meningkat menjadi 29,7 juta kL pada tahun 2050. 


Sebelumnya Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana dan Rektor ITB, Reini D. Wirahadikusumah juga menandatangani nota kesepahaman Badan Litbang ESDM dengan ITB tentang Kerja Sama Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian Kepada Masyarakat di Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral antara Badan Litbang ESDM dan ITB.


Dadan menjelaskan Badan Litbang ESDM bersama ITB telah bekerja sama mengembangkan katalis padat berbahan dasar mineral monmorilonit dari lempung,. pengujian pemanfaatan biodiesel sejak 2006, pengembangan teknologi gasifikasi biomassa, dan Carbon Capture and Storage,"


Dadan menambahkan, Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara juga tengah menjajaki peluang riset bersama dengan, terkait tambang bawah tanah (underground mining), termasuk pemanfaatan fasilitas dan perangkat lunak, pembuatan katalis Dimethyl Eter (DME) serta pemanfaaaan fasilitas pilot plant di Sentra Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara di Palimanan, Jawa Barat.

 

Peluang riset bersama yang dapat diusulkan antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKEBTKE) dengan ITB  adalah pengembangan teknologi baterei (LHP) dengan prototipe sepede listrik untuk usaha kecil menengah (UKM), sistem kontrol untuk charging station, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).



Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202