Arsip Berita



GERLIS: Inovasi Untuk Substitusi LPG
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKEBTKE), Badan Litbang ESDM sedang mengembangkan “Gerobak Listrik” atau GERLIS bagi sektor usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM) dan pedagang kaki lima (PKL). 

Gerlis merupakan gerobak berjualan yang berisi peralatan kompor induksi untuk memasak dan dilengkapi baterei lithium yang bisa diisi. Gerobak ini bisa berdiri sendiri maupun ditarik menggunakan sepeda listrik. 

Gerobak ini dilengkapi dengan panel surya sebagai tambahan input daya pada siang hari, sedangkan untuk daya utama menggunakan daya input dari jaringan PLN. Untuk menyimpan listrik, baterai menjadi komponen utama dalam konsep ini, sebagai penyuplai daya kompor listrik. 

GERLIS didesain menggunakan baterai berkapasitas 7.200 Wh. Ini bisa digunakan untuk menyalakan kompor listrik 2.000 W selama empat jam terus menerus Berat GERLIS berikut peralatan masak rata-rata mencapai 151 kg.

Berdasarkan kajian awal tim P3TKEBTKE, baterai lithium adalah jenis baterai yang cocok paling tepat sebagai penyimpan energi agar desain gerobak lebih ringan dan lebih tahan lama. Pemilihan baterai terbaik untuk GERLIS adalah menggunakan baterai lithium prismatic. 

Prinsip kerja kompor listrik merubah energi listrik menjadi energi panas untuk memasak. Kompor listrik pada era sekarang telah mengalami modifikasi dan inovasi, yang lebih dikenal dengan kompor induksi. Kompor induksi menggunakan listrik, namun menggunakan prinsip gaya elektromagnetik. Gaya elektromagnetik (gaya medan magnet) merupakan gaya yang dihasilkan dari tarik-menarik antar kumparan dalam kompor induksi yang dialiri listrik. Gaya magnet ini akan mempengaruhi benda penghantar listrik yang dapat terinduksi arus elektromagnetik, hingga menghasilkan panas.

Penggunaan kompor listrik merupakan salah satu opsi alternatif pengganti LPG sebagai sumber energi untuk kebutuhan UMKM. Pemilihan gerobak listrik ini didasari penelitian P3TKEBTKE terhadap pengguna tabung LPG kemasan 3 kilogram. Selain, rumah tangga, pemakaian tabung LPG bersubdisdi ini didominasi oleh sektor UMKM khususnya PKL yang berjualan makanan.  

Berdasarkan data Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan (KUMKMP) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2015, sebanyak 21.000 PKL yang sudah dibina. Sedangkan jumlah PKL liar atau tidak dibina sebanyak 60.686 pedagang. Jumlah ini meningkat tajam dibanding tahun 2014. 

Berdasarkan data Indonesia Energy Outlook 2019 dari Dewan Energi Nasional (DEN), pada tahun 2018, konsumsi LPG bersudsidi mencapai 7,5 juta ton. Peningkatan konsumsi LPG ini tidak diimbangi dengan penyediaan LPG dari kilang LPG dan kilang minyak di dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah hanya dapat mengandalkan produksi LPG dalam negeri sebesar dua juta ton (26%), sedangkan sisanya diimpor sebanyak 5,5 juta ton (74%).

Dari tahun ke tahun konsumsi LPG terus bertambah, sehingga subsidi LPG pun kian membengkak. Pada tahun 2018, pemerintah menetapkan subsidi untuk LPG 3 kg antara Rp. 6.000 – 10.000 per kilogram. Selama tahun 2018 saja, pemerintah mengucukan anggaran untuk subsidi mencapai Rp 58,1 trilliun. Pada tahun 2020, anggaran subsidi LPG diperkirakan sebesar Rp 50,6 triliun.

Pemerintah terus mencari jalan untuk menekan konsumsi LPG bersubsidi, mengingat banyaknya penggunaan LPG 3 kg yang tidak tepat sasaran.  Tidak sedikit konsumen menengah ke atas dan industri turut menggunakan LPG yang diperuntukan masyarkat bawah. 

Untuk mengurangi volume impor LPG, pemerintah melakukan beberapa program substitusi LPG. Selain dengan bahan bakar DME (Dimethyl Ether), yang berasal dari batubara, pemerintah juga berupaya mengalihkan substitusi LPG dengan kompor listrik induksi.Diversifikasi penggunaan LPG diperlukan untuk mengurangi subsidi dan meningkatkan ketahanan energi di masa depan. 


Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202