Arsip Berita



Inovasi Alat Bantu Pernafasan VICE Z-Axis Selesaikan Tahapan Uji Klinik
Inovasi Badan Litbang ESDM berupa prototipe alat bantu pernafasan (powered emergency resuscitator)  ViCE Z-Axis, telah menyelesaikan uji klinis di sejumlah rumah sakit rujukan yang menangani Covid-19. 

Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana menjelaskan rancang bangun VICE Z- Axis merupakan salah satu kontribusi Badan Litbang ESDM untuk aktif memberi solusi atas pandemi COVID-19. Alat yang dapat menggantikan bagging tangan ini, hanya diperuntukkan pada kondisi darurat yaitu jika tidak ada alat bantu pernapasan konvensional (seperti ventilator). Pada kondisi darurat seperti pasien yang membutuhkan bantuan pernapasan dapat menggunakan ViCE Z-Axis.

Dadan menambahkan, “Berdasarkan uji klinik di RSPAD Gatot Soebroto, ViCE Z-Axis menghasilkan keluaran respiratory rate (RR), tidal volume (TV) dan tekanan lebih stabil dibandingkan tindakan pemberian bantuan napas menggunakan resuscitation bag yang ditekan dengan tangan”.

Hasil uji klinik menunjukkan dominasi  pengggunaan prototipe ViCE Z-Axis dari berbagai aspek terhadap pemberian tindakan bagging. Penggunaan mesin ViCE Z-Axis harus terus dimonitor tenaga medik secara berkala dan dihentikan jika ventilator komersial telah tersedia. Tenaga medik juga harus memastikan kebersihan/sterilisasi dari komponen klinik (filter, katup PIP, katup PEEP, dan selang).

Rancang bangun prototipe ViCE Z-Axis telah melalu berbagai proses yaitu diskusi, konsultasi dari beberapa multi disiplin dan kalibrasi. Prototipe ViCE Z-Axis juga telah lulus uji Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan (BPFK), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pengujian di BPFK meliputi uji fungsi, uji keamanan, dan uji keandalan.

Alat bantu pernapasan yang lebih aman untuk penderita COVID-19 dan petugas kesehatan adalah ventilator. Ventilator berfungsi memperbaiki ventilasi alveolar, pembuangan CO2, oksigenasi jaringan yang adekuat, dan menurunkan kerja pernapasan. Ala ini beroperasi menggunakan mesin dan sistem kontrol, ventilator mampu menghasilkan parameter pernapasan (seperti laju pernapasan, tidal volume, dan tekanan) yang lebih stabil dibandingkan bagging khususnya, pada jangka waktu yang panjang. Sayangnya kebutuhan ventilator meningkat hingga 1.000% selama pandemi COVID-19. Industri ventilator tidak dapat memenuhi permintaan secara cepat, sehingga harga ventilator pun meningkat tajam.



Prinsip dasar ViCE Z-Axis adalah pemberian tekanan positif yang intermiten sesuai kebutuhan volume udara dan frekuensi napas. Mekanisme ViCE Z-Axis akan tetap mengalirkan oksigen, walau pasien tersebut tidak bernapas. Penggunaan ViCE Z-Axis harus dilakukan dan diawasi oleh tenaga medis profesional hingga tersedia mesin ventilator komersial yang lebih canggih. ViCE Z-Axis bisa digunakan sebagai alat di ruang resusitasi dan isolasi ataupun bisa juga dipakai pada saat transportasi pasien. 

Metode pengujian menggunakan dua cara, tangan yang menekan resuscitator bag (bagging) dan prototipe mesin ViCE Z-Axis. Masing-masing tindakan dilakukan selama 30 menit dan setiap menit dilakukan pengukuran terhadap parameter RR, TV, tekanan tertinggi, dan tingkat kelelahan (khusus pada tindakan bagging). Pengukuran parameter menggunakan alat Fluke VT Plus HF Gas Flow Ventilator Analyser.

Uji klinik VICE Z-Axis melibatkan 50 peserta kontrol. Uji klinik dilaksanakan berdasarkan pada ijin etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) RSPAD Gatot Soebroto dan Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Pengujian berlangsung dari bulan Juni sampai September 2020 dan hasil uji klinis telah selesai diolah. 

Setiap peserta melakukan dua tindakan yaitu pemberian respiratori dengan respiratory rate (RR) 12 bpm, tidal volume (TV) 350 ml, dan inspiratory and expiratory ratio (IER). Tiap tindakan dilakukan selama 30 menit dan setiap menit dilakukan pengukuran terhadap parameter RR, TV, tekanan tertinggi dan tingkat kelelahan pada tindakan bagging. 

Tetapi teknik bagging ini memerlukan keahlian dan kemampuan fisik pemberi bantuan, sehingga durasinya terbatas. Pemberian bagging juga berrisiko penularan sangat tinggi terhadap tenaga kesehatan karena harus berdekatan dengan pasien COVID-19.

Virus SARS-CoV-2 menyerang sistem pernapasan dari tingkat ringan sampai sangat berat, bahkan berakibat fatal/kematian. Pasien COVID-19 mengalami gangguan pernafasan dan membutuhkan bantuan ventilasi untuk memindahkan udara ke dalam dan ke luar paru dengan menggunakan alat bantu pernapasan seperti resuscitation bag dan ventilator. Pemberian napas bantuan umumnya menggunakan resuscitation bag yang ditekan secara manual (bagging), sehingga udara keluar dari resuscitation bag. 

Sebagian besar penderita COVID-19 hanya mengalami penyakit yang ringan atau tanpa komplikasi namun dalam kasus parah, COVID-19 dapat diperburuk dengan sindrom gawat pernapasan akut (Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)), sepsis, septic shock, gagal multi organ, termasuk gagal ginjal atau gagal jantung akut.


Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202