Arsip Berita



Keberhasilan Uji Terbang Pesawat CN 235 Berbahan Bakar Bioavtur, PPPTMGB “LEMIGAS” Dukung Uji karakteristik dan Kinerja Bioavtur
"Berkat dukungan dan kerja sama stakeholder, penerbangan perdana menggunakan bahan bakar nabati, campuran bioavtur 2,4%, akhirnya terlaksana dengan menempuh jarak Bandung - Jakarta menggunakan pesawat CN235", ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif pada seremoni keberhasilan Uji Terbang Pesawat CN235-200 FTB (Flying Test Bed) milik PT Dirgantara Indonesia, menggunakan campuran bahan bakar bioavtur J2.4 (6/10) di Hanggar 2 PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF), Tangerang. 

Uji Terbang dengan bahan bakar bioavtur J2.4 ini merupakan puncak kegiatan dari serangkaian kegiatan pengujian yang dilakukan antara Tim Peneliti Katalis ITB, Tim Peneliti Uji Terbang ITB, Tim peneliti RTI (Research Technology Innovation) PT Pertamina, dan didukung Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (PPPTMGB) "LEMIGAS", PT GMF Aeroasia, PT Pertamina, PT Dirgantara Indonesia, Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), IMAA, serta DPNPKS. 

Riset bioavtur telah dimulai dari tahu  2010, melalui penelitian bersama antara Pertamina Research & Technology Innovation (Pertamina RTI) dengan Pusat Rekayasa Katalisis Institut Teknologi Bandung (PRK-ITB) dalam program pengembangan katalis "MerahPutih" dan dikembangkan untuk mengkonversi minyak inti sawit menjadi bahan baku bioavtur. Sinergi ini diperluas, dengan menggandeng PT KPI (Kilang Pertamina Internasional) untuk uji produksi co-processing skala industri di Refinery Unit (RU) IV Cilacap. Campuran RBDPKO (Refined, Bleached, and Deodorized Palm Kernel Oil) dan kerosin diolah menggunakan katalis merah putih. Riset ini telah menghasilkan produk bioavtur dengan kadar 2,4 %-v, yang disebut dengan J2.4.

PPPTMGB "LEMIGAS" memberikan dukungan sarana dan tenaga ahli yang tergabung di Kelompok Riset Bahan Bakar dan Aviasi, Kelompok Penelitian dan Pengembangan Teknologi Aplikasi Produk. Dengan fasilitas dan peralatan uji terlengkap di Indonesia, Laboratorium Bahan Bakar dan Aviasi (BBA) KP3 Aplikasi Produk bertugas melakukan pengujian karakteristik dan kinerja Bahan Bakar baik Bahan Bakar Minyak (BBM), Bahan Bakar Nabati (BBN), maupun campuran keduanya.

Khusus untuk produk avtur, Laboratorium BBA telah mengikuti Proficiency Test Programme (PTP) dengan provider ASTM (American Standard Testing and Material) International, sehingga diharapkan dapat mendukung produk bioavtur J2.4 ini agar diakui validitas dan keabsahan hasil pengujiannya oleh lembaga sertifikasi internasional yang berwenang. 




Secara keseluruhan pengujian produk bioavtur J2.4 ini berhasil membuktikan teknologi pemrosesan dan teknologi pembuatan katalis yang mendukung di Indonesia, dapat menghasilkan produk Co-Processing setara avtur dengan bahan baku dari Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO) sebesar 2.4% pada fasilitas kilang PT Pertamina. 

Serangkaian uji teknis dilakukan selama sebulan terakhir, hingga pelaksanaan uji terbang dari tanggal 8 September hingga 6 Oktober 2021, termasuk pengujian In-flight Engine Restarting.


Keberhasilan ini akan menjadi tahap awal dalam peningkatan kontribusi bioavtur di sektor transportasi udara dalam rangka meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Kegiatan ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Hilirisasi Industri Katalis dan Bahan Bakar Biohidrokarbon yang dikoordinasikan oleh Kementerian ESDM, serta termasuk dalam etalase Prioritas Riset Nasional (PRN) Pengembangan Teknologi Produksi Bahan Bakar Nabati berbasis Minyak Sawit dan Inti Sawit, yang dikoordinasikan oleh Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN).

Direktur Jenderal EBTKE/Plt. Kepala Badan Litbang ESDM menjelaskan tahapan uji coba bioavtur J.2.4 ini akan akan menyelesaikan kegiatan aspek teknis terlebih dahulu. Secara bertahap akan dilakukan tahap pengembangan proses, termasuk kajian keekonomian, yang selanjutnya akan dilanjutkan tahap kebijakan.

“Pembahasan kebijakan diharapkan tidak akan lama karena Peraturan ESDM sudah ada, speksifikasi produk juga sudah ditetapkan bahkan SNI sudah terbit”, kata Dadan. 

Dadan menambahkan tahapan yang perlu mendalam adalah koordinasi keekonomian. Perhitungan keekonomian sendiri tidak selalu murah. Apabila nanti perhitungannya lebih mahal dibandingkan biaya avtut,, maka akan dikaji dampaknya terhadap aspek yang lain.

Dadan menekankan “Pengembangkan bioavtur konteksnya adalah untuk mengurangi dampak lingkungan, meningkatkan konsumsi energi baru terbarukan (EBT) dan meningkatkan indurstri sawit dalam negeri”.


Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202