Arsip Berita



Kontribusi Kementerian ESDM Dalam Penetapan Rencana Zonasi Laut Kawasan Antar Wilayah

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) memberikan dukungan kebijakan dan informasi kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan, untuk mempercepat penetapan rencana zonasi laut antar wilayah. Hal ini disampaikan Kepala Bidang Afiliasi dan Informasi P3GL, Andy Sianipar pada Focuss Discussion Group (FGD) tentang Penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah 2020, bersama Tim Penyusun Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah, Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Cirebon. (20/2)

 

Andy menjelaskan terdapat empat fokus utama pengembangan kelautan, diantaranya Pengembangan energi kelautan (yang difokuskan pada pemanfaatan sumber daya laut, baik energi arus, gelombang maupun panas laut), Pengembangan potensi pulau kecil/terdepan/daerah pinggiran (melalui pengembangan infrastruktur energi untuk mendukung klaster ekonomi maritim serta pemanfaatan potensi energi terbarukan), Pengembangan sumber daya energi dan mineral kelautan, di antaranya menggali potensi timah, emas, tembaga, nodul mangan dan radioaktif. Hal yang tidak kalah penting yakni isu strategis dan infrastruktur kelautan, seperti jalur pipa bawah laut, jalur kabel bawah laut, jalur pelayaran, kepelabuhanan, jembatan antar pulau, analisis wilayah dan kebencanaan.

 

Direktur Perencanaan Ruang Laut – KKP, Suharyanto menjelaskan rencana zonasi ini diperlukan sebagai alat yang efektif untuk meminimalkan konflik antara pengguna sumber daya sehingga pengelolaan ruang laut menjadi lebih efektif.

 

Koodinator Kelompok Pelaksana Penelitian dan Pengembangan Energi Kelautan dan Kewilayahan P3GL, yang diwakilkan oleh Godwin Latuputty, menyampaikan paparan hasil survei yang telah dilakukan oleh P3GL di beberapa lokasi pulau terluar dan selat terkait karateristik dan potensi geologi laut.

 

Berdasarkan hasil survei disekitar Kepulauan Sangihe terdapat banyak gunung laut yang belum diberikan nama dan di Laut Banda terdapat gunung bawah laut Komba yang memiliki potensi mineral tinggi. Selain itu terdapat potensi energi laut yang tinggi di Selat Molo yang dapat dikembangkan sebagai pembangkit listrik tenaga arus laut.

 

Peneliti Pemetaan Batas Landas Kontinen P3GL, Catur Purwanto memaparkan hasil survei pemetaan dan potensi landas kontinen di Utara Papua, Barat Sumatera dan Selatan Bali/Sumba. Catur menyampaikan Indonesia memiliki potensi klaim ekstensi landas kontinen di tiga wilayah, yaitu sebelah barat Sumatera, selatan Bali dan Nusa Tenggara, serta utara Papua. Berdasarkan hasil survei di selatan pulau Sumba, terindikasi hanya sedikit luas yang bisa diklaim sebagai ekstensi landas kontinen. Potensi ekstensi landas kontinen utara Papua mencapai 196 ribu km2. Riset menunjukkan wilayah klaim ekstensi landas kontinen ini merupakan kelanjutan punggung daratan Papua. Catur menambahkan wilayah ekstensi tersebut kaya akan potensi mineral dan dapat dialokasikan sebagai zona pertambangan.

 

Disampaikan juga bahwa berdasarkan hasil survei Pulau Kei, kedalaman di sekitar Pulau mencapai 7500 m yang membentuk palung dengan sebaran sedimen didominasi oleh Pasir Lanauan. Berdasarkan hasil survei Laut Sulawesi, terdapat beberapa lokasi gunung bawah laut di sekitar Manado, Kepulauan Sangihe, dan Pulau Kawio yang memiliki potensi mineral tinggi.

 

Peneliti Potensi Energi Laut P3GL, Delyuzar Ilahude menyebutkan ada beberapa lokasi potensial pengembangan energi laut, salah satunya ocean thermal energy combustion (OTEC), yang masih pada tahap pengembangan. Kementerian ESDM sudah menjajaki kerja sama uji coba OTEC dengan pihak Jepang di perairan utara Bali.

 

Delyuzar mengingatkan pengembangan lokasi OTEC harus memperhitungkan kondisi geologi, jarak, dan tidak berada di wilayah yang rawan bencana. Pengembangan OTEC selain sebagai penyedia energi listrik, juga dapat menghasilkan air desalinasi, hydrogen, lithium, air laut dalam, dan pendingin untuk cold storage.

 

Kepala Bidang Penyelenggaraan Sarana dan Litbang P3GL, Hadi Wijaya menjelaskan sarana prasarana utama P3GL untuk mendukung kebutuhan survei geologi kelautan di antaranya Kapal Riset Geomarin III. Kapal yang sudah mendapatkan sertifikasi kelayakan survei migas dan sertifikasi pendukung lainnya ini dilengkapi berbagai peralatan survei geologi, geofisika, dan oseanografi seperti seismik multi channel, sub bottom profiler (SBP), side scan sonar, sampling dengan gravity corer, pistone core, grab, juga water sampler, dan peralatan lainnya.

 

Acara FGD ini juga dilengkapi dengan kunjungan ke Kapal Riset Geomarin III dan Workshop Peralatan serta Cold Storage di kantor P3GL Cirebon.

 

Ketua Tim Teknis RZ KAW, Nilfa Rasyid menyampaikan pihaknya merumuskan tema perencanaan zonasi, tujuan, kebijakan dan strategi perencanaan ruang laut untuk pengembangan kawasan 20 tahun mendatang. Beberapa gambaran umum wilayah perencanaan RZ KAW dan data geologi laut yang telah dikompilasi dan dianalisis, seperti sebaran substrat dasar, sebaran kegiatan dan potensi pertambangan minerba dan migas, serta potensi energi laut (OTEC) di enam wilayah perencanaan RZ KAW.

 

Penetapan Zonasi Laut merupakan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kelautan dan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2019 tentang Rencana Tata Ruang Laut. Dokumen tersebut akan menjadi basis dan ujung tombak pemanfaatan sumber daya pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil selama 20 tahun ke depan secara berkelanjutan. Tim Teknis RZ KAW telah menggelar rangkaian FGD ke beberapa instansi dan pemerintah daerah untuk menggali strategi dan rencana pengembangan potensi sumber daya kelautan dalam penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah Tahun 2020.

 

Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202