Arsip Berita



Mengenal Gas Hidrat, Potensi Energi Alternatif Masa Depan Gas hidrat dianggap sebagai salah satu sumber daya paling potensial utuk kebutuhan energi masa depan karena volumenya yang luar biasa besar. Meski sumber daya dan jumlahnya melimpah, pemanfaatan gas hidrat saat ini masih jauh dari yang diharapkan. Belum ada metode dan teknologi produksi yang berhasil dikembangkan secara mapan hingga saat ini.

Gas hidrat adalah zat kristal yang dikenal sebagai senyawa inklusi, dimana molekul gas terperangkap di dalam struktur padatan yang disusun oleh molekul air. Gas ini merupakan sumber daya hidrokarbon terbesar di bumi, karena 53% dari distribusi karbon organik di bumi terakumulasi sebagai gas hidrat. Dua area diketahui menjadi tempat akumulasi gas hidrat, yaitu area permafrost di sekitar Kutub Utara dan sea beds di laut dalam.

Uji produksi untuk eksploitasi dari laut dalam sudah dilakukan di Nankai Trough, Jepang sejak tahun 2001 dan juga di area lain di sejumlah negara seperti Cina, Korea, India, Kanada, USA dan Rusia. Sejauh ini, mekanisme yang digunakan dalam ujicoba produksi tersebut adalah depressurization, stimulasi panas dan injeksi inhibitor.

Pemerintah telah mengatur eksplorasi dan eksploitasi gas hidrat di Indonesia dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 05 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penetapan Dan Penawaran Wilayah Kerja Minyak Dan Gas Bumi Non Konvensional.

Sumber daya spekulatif gas hidrat di Indonesia diperkirakan sekitar 850 TCF, sementara menurut data PT Pertamina diperkirakan 3.000 TCF Besaran nilai ini masih sering diperdebatkan karena belum ada penelitian komprehensif terkait gas hidrat di Indonesia.
Merujuk kepada peta topografi dasar laut Indonesia, banyak sea beds pada area laut dalam Indonesia diperkirakan memiliki akumulasi gas hidrat dengan nilai volumetrik yang sangat besar. Analisis berdasarkan data seismik menunjukkan bahwa gas hidrat tersebar di daerah lepas pantai Simeuleu, Palung Mentawai, Selat Sunda, Busur Depan Jawa, Lombok Utara, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Aru, Misool, Kumawa, Wigeo, Wokam dan Salawati. Daerah lain yang dianggap memiliki potensi gas hidrat adalah Laut Flores, Teluk Bone, Laut Sawu, Laut Timor, lepas pantai selatan Banggai, Laut Banda, Laut Seram, Laut Maluku, dan lepas pantai utara Papua.

Metodologi dan teknologi produksi yang aman dan ekonomis diharapkan dapat segera ditemukan, mengingat produksi dan pemanfaatan gas hidrat juga dapat melindungi bumi dari bencana pemanasan global yang dahsyat di masa depan. Efek metana terhadap pemanasan global diketahui 25 kali lebih kuat daripada CO2. Berdasarkan penelitian terhadap isotop yang terinklusi dalam fosil, peristiwa kematian massal yang disebabkan pelepasan gas hidrat ke atmosfir diperkirakan pernah terjadi sekitar 251 juta tahun lalu. Bencana ini mengakibatkan 96% spesies laut dan 70% spesies vertebrata darat punah.  

Metode untuk mengidentifikasi akumulasi gas hidrat dapat berdasarkan karakteristik Bottom Simulating Reflector (BSR) pada penampang seismik BSR, yang merupakan indikator dasar GHSZ (Gas Hydrate Stability Zone). GHSZ adalah suatu refleksi dalam penampang seismik yang cenderung terlihat paralel dengan refleksi dasar laut sebagai akibat kontras antara gas hidrat (clathrate) di bagian atas dan sedimen jenuh gas bebas yang mendasarinya.

Distribusi gas hidrat di perairan dalam Indonesia diidentifikasi berdasarkan karakteristik BSR dan pendekatan analog. Area dibagi dua kategori, yaitu area potensial yang didukung data BSR pada penampang seismik, dan area potensial yang diidentifikasi berdasarkan analog. BSR sebagai indikator dasar gas hydrate stability zone (GHSZ) dapat dilihat jelas di daerah lepas pantai Simeuleu, Palung Mentawai, Selat Sunda, Java Fore-Arc, Lombok Utara, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Aru, Misool, Kumawa, Wigeo, Wokam dan Salawati.

Tingkat kepastian keberadaan akumulasi gas hidrat relatif tinggi mengingat sebagian besar BSR memiliki karakter yang tegas dan menerus. BSR dengan karakter relatif kurang tegas dan tidak menerus hanya dijumpai pada area bagian barat Java Fore-Arc. Hal tersebut disebabkan kualitas data seismik yang kurang baik.

Berdasarkan tipe cekungan, distribusi gas hidrat di Kawasan Barat Indoneisa (KBI) sebagian besar tersebar di Cekungan Fore-Arc di sepanjang Sumatera, Jawa, Bali dan Lombok. Keberadaan gas hidrat pada Cekungan Back-Arc hanya dijumpai di Laut Bali. Sementara di Kawasan Timur Indonesia (KTI), gas hidrat tersebar di berbagai jenis cekungan, yatu Cekungan Rifting di Selat Makasar dan Laut Flores; Cekungan Fore-Arc di Laut Sulawesi, Waigeo, dan lepas pantai utara Papua; Cekungan Intercratonic di Laut Savu, Cekungan Passive margin di Laut Timor, Laut Seram dan palung Aru; Cekungan Marginal Oceanic di Laut Banda dan Laut Maluku; Cekungan Foreland di Banggai dan Misol; serta Cekungan Transtensional di Halmahera.

Penelitian terkait teknologi produksi ini harus terus digalakkan. Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak perairan dalam dan kaya akan gas hidrat, sudah seharusnya ikut berperan melalui institusi penelitian yang dimiliki. Namun demikian, tantangan dalam pemanfaatan gas tersebut masih dihadapi hingga saat ini, yaitu teknologi eksploitasi berbasis Hi-Tech yang aman dan ekonomis. Memproduksi gas hidrat secara aman pada hakikatnya juga akan dapat mencegah bumi dari bencana pemanasan global yang ekstrem di masa depan.

Untuk mempercepat perolehan hasil dan meningkatkan rasio keberhasilan, penelitian dapat dilakukan melalui pola kerja sama riset/konsorsium dengan negara yang sudah lebih dulu meneliti, diantaranya Jepang, Korea, Tiongkok, USA dan Kanada.

Membiarkan gas hidrat tetap berada di dasar laut dan area permafrost adalah bukan hal yang bijak karena potensi methane dari gas hidrat lepas ke atmosfir dalam jumlah signifikan akan sangat besar saat terjadi kenaikan suhu air atau atmosfir. Hal tersebut dapat berakibat pada efek pemanasan global yang ekstrim mengingat efek rumah kaca yang ditimbulkan methane adalah 25 kali lebih kuat daripada CO2. Memproduksikan gas hidrat secara aman pada hakikatnya juga akan dapat mencegah bumi dari bencana pemanasan global yang ekstrim di masa depan.

Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202