Arsip Berita



RELIABILTAS ALAT REAL TIME ANALYZER (RTA)  SEBAGAI UPAYA PENGUATAN PENGAWASAN PENJUALAN BATUBARA
Indonesia negara yang kaya akan sumber daya alam, khususnya komoditas pertambangan batubara. Total realisasi produksi batubara nasional tahun 2020 mencapai 560,7 juta ton, dengan realisasi royalti batubara sebesar 20,737T dan penjualan hasil tambang (PHT) 13,472 T (Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Tahun 2020). Realisasi royalti dan PHT batubara yang dibayarkan badan usaha pertambangan ke kas negara, sangat bergantung pada akurasi hasil verifikasi surveyor terhadap kualitas dan kuantitas batubara yang dijual, sesuai Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1823 K/30/MEM/2018.

Pengawasan surveyor dilakukan pemerintah dengan metode uji petik oleh surveyor saksi.  Ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM nomor 154.K/30/DJB/2020 tentang Tata Cara Penetapan Surveyor untuk Verifikasi Analisa Kuantitas dan Kualitas Penjualan Mineral dan Batubara. Penguatan pengawasan terus dilakukan pemerintah (Kementerian ESDM). Salah satu alternatif pengawasan verifikasi kualitas penjualan batubara dapat dilakukan dengan pendekatan teknologi. Hal ini telah disampaikan oleh Wakil Menteri ESDM Periode 2016-2019, Archandra Tahar (26 Maret 2019) pada acara Sosialisasi Penggunaan Aplikasi e-PNBP dan Minerba Online Monitoring System (MOMS) di Pekanbaru, Riau. 

Sejumlah Badan Usaha Pertambangan Batubara telah menerapkan teknologi berbasis on line system atau real time analyzer (RTA) untuk mengontrol kualitas batubara sebelum masuk ke dalam moda tranportasi (vessel), diantaranya adalah PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Adaro Indonesia, dan PT Arutmin Indonesia.

RTA memiliki kemampuan untuk menganalisis kualitas secara cepat dan akurat. Berbeda dengan sistem konvensional, RTA menganalisis kualitas material tidak memerlukan proses sampling, preparasi dan analisa yang membutuhkan waktu tiga sampai dengan tujuh hari. RTA merupakan teknik non kontak dan non destruktif terhadap materinya. Alat ini bekerja dengan teknik melepaskan/menembakkan neutron pada material. Neutron akan berinteraksi dengan unsur-unsur dalam suatu materi dan akan memancarkan sinar gamma yang memiliki karakteristik unik untuk setiap unsurnya. Selanjutnya sinar gamma ini dibaca oleh detector. Analisis aktivasi neutron ini memungkinkan identifikasi dan kuantifikasi yang tepat dari unsur-unsur dalam sampel, (Lylia Hamidatou, dkk, 2013).

Penganilisis unsur dengan menggunakan neutron/gamma, bergantung pada neutron yang berinteraksi dengan atom dalam sampel dan menghasilkan sinar gamma dengan karakteristik energi dari inti pemancar, Sowerby (2009). Prinsip dan kemampuan analisis aktivasi neutron relatif lebih stabil dengan peralatan perhitungan dan pemprosesan data telah dikembangkan dengan baik. Proses analisis dilakukan terhadap sampel utuh sehingga mengurangi tingkat manipulasi sampel yang terlibat dalam analisis, (IAEA, 1987).

Pada pengukuran kualitas batubara, Rony Djokorayono, dkk (2013) menjelaskan sistem kerja alat ini menggunakan teknik aktivasi radiasi neutron dari unsur 252Cf. Sistem digunakan untuk mengukur konsentrasi radiasi gamma yang keluar dari unsur-unsur yang terkandung di dalam batubara setelah diaktivasi oleh radiasi neutron. Unsur-unsur yang terdapat didalam batubara diantaranya CI,S, Fe, AI, Ca, Ti,K,N, Na, C, B dan ikatan senyawa Si02,AI203, Ti02,Fe203, CaO, K20 serta hasil pengukuran ini digunakan untuk menentukan kadar abu batubara.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Mineral dan Batubara, telah ditunjuk untuk melakukan pengujian guna mengetahui reliability dan signifikansi alat RTA jika digunakan sebagai alternatif alat pengawasan verifikasi kualitas penjualan batubara. Pengujian dilakukan terhadap sampel batubara yang diambil menggunakan alat mechanical sampler, yang terpasang di conveyor saat loading shipment berlangsung di lokasi Tanjung Bara Coal Terminal (TBCT) PT KPC. Hasil pembacaan kualitas batubara dengan menggunakan RTA yang juga terpasang di conveyor, kemudian dibandingkan dengan hasil pengujian sampel di laboratorium on the spot untuk mengetahui koefisien korelasi (Rreliabilitas). Analisis skor reliabilitas dilakukan dengan metode bentuk paralel (Eequivalent) menggunakan rumus korelasi Product Moment atau Pearson sebagaimana rumus uji reliabilitas metode test-retest.

Pengujian telah mendapatkan data secara empiris nilai konsistensi hasil pengukuran dari dua alat ukur yang dianggap ekuivalen (RTA dan pengujian di laboratorium on the spot). Hasil analisis skor reliabilitas dari kedua intrumen tersebut memiliki korelasi (reliable), dengan nilai koefisien korelasi : 0,72 (reliabilitas tinggi) untuk parameter TM, 0,74 (reliabilitas tinggi) untuk parameter Ash, 0,69 (reliabilitas tinggi) untuk parameter CV, dan 0,59 (reliabilitas sedang) untuk parameter TS. Signifikansi korelasi pengukuran untuk keempat parameter uji tersebut termasuk signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai r hitung dan t hitung masing-masing parameter lebih besar dari nilai r tabel dan t tabel (selang kepercayaan 99 persen). 

Berdasarkan nilai koefisien korelasi dan signifikansi korelasi, maka secara teknis alat RTA dapat diterapkan sebagai alternatif alat pengawasan verifikasi kualitas penjualan batubara. Teknologi RTA terhindar dari campur tangan manusia dan bebas intervensi (human error). Hasil uji reliabilitas yang telah dilakukan menjukan bahwa kualitas penjualan batubara PT KPC tidak berbeda nyata antara hasil pembacaan alat RTA dengan hasil pengujian laboratorium. 
Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202