Arsip Berita



 Sampah Membawa Berkah untuk Energi Plt. Kepala Badan Litbang ESDM didampingi Dadan Kusdiana didampingi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKEBTKE) meninjau Biomass Operation System of Saguling (BOSS) yang sedang diuji coba di PT Power Indonesia Power UP Saguling, Kabupaten Bandung (13/11).

PT Power Indonesia Power UP Saguling berinisiasi mengembangkan Program BOSS karena permasalahan yang dihadapi terhadap tingginya biaya pemeliharaan waduk untuk membersihkan eceng gondok, permasalahan peningkatan sampah dan gulma air, serta peningkatan keramba jaring apung masyarakat yang telah berkontribusi peningkatan sedimentasi waduk Saguling.

Program BOSS merupakan teknologi yang diuji coba Indonesia Power UP Saguling, untuk mengolah tanaman eceng gondok dan sampah menjadi pelet/briket biomassa. Briket biomasa dapat dimanfaatkan sebagai substitusi bahan bakar batubara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) cofiring biomasa. PLTU cofiring menggunakan metode penggantian sebagian batubara dengan biomassa yang sesuai.

Dadan mengharapkan agar P3TKEBTKE dapat bersinergi dengan Indonesia Power untuk mengkaji proses uji coba dan keekonomian BOSS sehingga dapat lebih efisien dan maksimal.

“Proses produksi briket dapat ditingkatkan untuk mendukung program co-firing PLTU, mengingat kebutuhan ke depan akan sangat besar”, kata Dadan.

Program BOSS dilakukan beberapa tahapan, yaitu pengangkatan sampah, peuyeumisasi, pencacahan, dan briketisasi mampu mengurangi sampah dan gulma air. Melalui proses peuyeumisasi dengan bioaktivator, nilai kalori eceng gondok dapat ditingkatkan dari 1.000 kcal/kg menjadi 3.100 kcal/kg dan.  Komposisi yang  menghasilkan briket paling baik dengan komposisi 50% eceng gondok dan 50% sampah organik dan dan nilai kadar air berkisar 15 persen.


Produksi briket BOSS melalui proses peuyeumisasi selama lima hari dan hasilnya masih dua ton per hari. Briket dimanfaatkan untuk co-firing PLTU yang dioperasikan oleh PT Indonesia Power. UP Saguling juga melakukan uji coba pengoperasian prototipe pembangkit biomasa dengan kapasitas 10 kW dengan bahan bakar briket yang dihasilkan. Produksi listrik 1 kWh membutuhkan 1,4 kg briket. 

Prototipe BOSS ini diharapakan dapat dikembangkan utk memenuhi kebutuhan listrik di daerah 3T (terdepan, terpencil dan tertinggal).  Walaupun belum ada kontrak pembelian dari PLTU, biaya jual di loko BOSS adalah Rp 550 /kg.

General Manager Indonesia Power UP Saguling, Rusdiansyah menjelaskan uji coba BOSS telah diinisiasi sejak September 2019. Untuk itu penyusunan proses kerja BOSS akan melibatkan para petani keramba apung agar mengalihkan pekerjaaan menjadi pengolah sampah. Masyarakat, terutama para petani akan diberikan pelatihan agar bisa membuat briket sendiri. PT Indonesia Power akan membantu agar hasil briket ini dapat dijual sebagai bahan bakar PLTU maupun gasifier.

Rudiansyah memaparkan program ini diharapkan tidak hanya mengatasi masalah sampah dan keramba, namun juga mengurangi biaya operasional dan pemeliharaan. Waduk yang telah berusia 30 tahun membutuhkan biaya cukup besar utuk pemeliharaan, termasuk pembersihan sampah dan enceng gondok.  Apalagi waduk Saguling juga menampung sampah dari banyak anak sungai dengan garis pantai mencapai 475 km.

Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202