Arsip Berita



Sinergi Badan Litbang ESDM, Badan Geologi dan PT PLN GG Kembangkan Panas Bumi di NTT Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana, bersama Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar dan Direktur Pengadaan Strategis 1 PT PLN, Sripeni Inten Cahyani bersinergi dalam melakukan kerja sama dalam pengembangan dan pemanfaatan bidang energi dan sumber daya mineral melalui penandatanganan nota kesepahaman untuk kerja sama studi eksplorasi dan pengeboran sumur produksi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Mataloko, Provinsi Nusa Tenggara Timur di Jakarta (18/7).

Dalam kerja sama ini, Badan Litbang ESDM melalui Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKETBTKE) dan BLU LEMIGAS akan melaksanakan beberapa studi panas bumi, meliputi studi mitigasi resiko, studi geologi geokimia geofisika, studi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) serta penggunaan peralatan rig hidrolik (mobile hydraulic rig) LEMIGAS. Sebelumnya BLU LEMIGAS dan PT PLN telah bekerja sama untuk pengadaan jasa konsultasi perhitungan losses actual regasifikasi Blok Arun dan pengadaan jasa konsultasi kajian harga gas untuk kelistrikan PT PLN. 

Peran Badan Geologi dalam kerja sama ini nantinya akan dilaksanakan oleh Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP), karena memiliki kemampuan dan peralatan untuk pemboran eksplorasi panas bumi.
PT PLN Gas dan Geothermal (PT PLN GG) sebagai anak perusahaan PT PLN (Persero) yang menangani bidang infrastruktur gas dan penyediaan tenaga listrik panas bumi, ditugasi untuk mengembangkan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKPO) Mataloko dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) 2,5 MW. 

Kerja sama ini dilatarbelakangi oleh kebijakan pemerintah untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui percepatan proyek infrastruktur kelistrikan. Kementerian ESDM mencatat rasio Elektrifikasi NTT termasuk yang rendah di Indonesia, hingga bulan Maret 2019 sebesar 71%. Seiring dengan berkembangnya wisata di wilayah tersebut, kebutuhan listrik di NTT terus meningkat. Sebagian besar kebutuhan listrik NTT masih dipasok oleh pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Di sisi lain, Provinsi NTT memiliki potensi panas bumi yang cukup besar di antaranya di Ulumbu, Mataloko, Mutubusa, Ropa dan Atadei. Dari 12 wilayah prospek panas bumi di Pulau Flores, terdapat tiga wilayah yang mendapat izin pengelolaan WKP (Wilayah Kerja Panas Bumi), yaitu Ulumbu, Mataloko dan Sokoria dengan total kapasitas terpasang mencapai 12,5 MW. Dengan pemanfaatan potensi panas bumi tersebut, diharapkan mampu meningkatkan rasio elektrifikasi di NTT.

Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202