Arsip Berita



Soft Skills, Kunci Menghadapi VUCA World
Untuk menghadapi revolusi 4.0, perlu untuk merubah Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity (VUCA) menjadi Vision, Understanding, Clarity dan Agility

Hal ini disampaikan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria dalam sesi Knowledge Sharing tentang Entrepreneurship Penelitian dan Pengembangan, di hadapan para pejabat struktural dan peneliti di lingkungan Badan Litbang ESDM di Jakarta dan Bandung (3/9). Dalam pemaparannya tentang pengelolaan manajemen inovasi di era industri 4.0, Arif menilai soft skill berperan penting terhadap keberhasilan seseorang. 

Arif menguraikan ada 10 faktor yang turut menentukan kesuksesan seseorang, yakni kejujuran, disiplin, pergaulan (good interpersonal skill), dukungan dari pasangan hidup, bekerja lebih keras dari yang lain, mencintai apa yang dikerjakan, kepemimpinan yang baik dan kuat, semangat dan kepribadian kompetitif, pengelolaan kehidupan yang baik serta kemampuan menjual gagasan dan produk. 



Menurut Arif, agar sukses dalam penelitian, diperlukan ide kreatif dari hal yang tidak terpikir orang lain. Sayangnya kreatifitas orang Indonesia masih tergolong kurang dibanding negara lain, yang terus menciptakan terobosan baru. Tiongkok menjadi negara yang berubah paling cepat dan mendominasi inovasi baru dan paten dibanding negara lain.  “Ini menjadi tekanan besar bagi para peneliti termasuk saya” tambah Arif.  

Dalam menghadapi perubahan tersebut, Arif memimpin penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Jangka Panjang 2030-2035 untuk IPB agar mampu bersaing di masa depan. Tahap pertama adalah membangun ekosistem inovasi yang kondusif disusul pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia. Awalnya ini dirasakan berat bagi Arif, karena mesti berhadapan dengan professor dan akademisi yang terbiasa dengan rasionalitas. Olah karena itu pengambilan keputusan apapun, berdasar pada hasil riset dan akademi, “Saya pantau perkembangan penyusunan renstra setiap minggu termasuk menyusun road map risiko secara rinci sampai distribusi penyelesaiannya”, kata Arif. 

Arif menekankan juga, dalam penyusunan Renstra, anggaran riset dibuat lebih terukur dengan hasil yang jelas. Perkembangan inovasi teknologi yang siap memasuki pasar, terukur salah satunya melalui Business Innovation Center (BIC). Setiap tahun IPB mendominasi sektitar 39 persen inovasi yang dinilai oleh BIC. Di akhir sesi, Arif menjelaskan, tantangan terbesar justru menghadapi orang mau merubah, sehingga dapat terintegrasi dalam sistem yang ia bangun. (ER)
Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202