Arsip Berita



Tips Mengelola Bahan Bakar B30 agar Tidak Menyumbat Filter Bahan Bakar
Salah satu keluhan yang paling sering dilaporkan dari implementasi Biodiesel B30 adalah terjadinya penyumbatan pada filter bahan bakar.  Penyebab utama akumulasi deposit pada filter tersebut adalah terdapat kandungan impurities monogliserida. Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”, Riesta Anggraeni menjelaskan bahwa konsumen perlu memahami tata kelola bahan bakar B30 agar tidak merusak komponen kendaraan. 

Saat menjelaskan pemanfaatan B30 pada webinar Shell tentang 'Penggunaan Biodiesel Sekarang dan Masa Depan' (13/7), Peneliti dari Kelompok Bahan Bakar dan Aviasi ini menjelaskan pemerintah bersama sejumlah pihak telah melakukan penelitian dan uji jalan (road test) B30 pada Bulan Mei-November 2019. Serangkaian pengujian menunjukkan, presentase perubahan daya, konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang relatif sama pada kendaraan yang menggunakan bahan bakar B20 atau B30 terhadap jarak tempuhnya. 

Riesta menekankan, pentingnya memahami karakter bahan bakar B30, agar penyumbatan dapat dihindari. Kementerian ESDM merekomendasikan agar bahan bakar tersebut disimpan dalam tangki tertutup dan dihindarkan dari kontak udara. Bila terjadi kontak udara beberapa lama, bahan bakar akan mengalami oksidasi dan akan mengganggu proses pembakaran di mesin. 

Hal senada juga disampaikan oleh Service Manager Komatsu Marketing and Support Indonesia, Devi Ari Suryadi. Devi menyarankan penyimpanan bahan bakar B30 sebaiknya tidak lebih dari tiga bulan, terutama di tempat yang mudah terkontaminasi udara. Jika tidak memungkinkan, sebaiknya penyimpanan bahan bakar tersebut dimonitor secara berkala, agar tidak mengandung monogliserid lebih dari 0,55 persen massa. 

Devi mengingatkan konsumen untuk rutin memeriksa komponen kendaraan/mesin, terutama pada kendaraan/mesin yang jarang digunakan. Mesin yang jarang digunakan misalnya genset, yang digunakan bahkan hanya beberapa bulan sekali saat terjadi pemadaman lampu.  

Jika lama tidak dipergunakan, Devi menyarankan, “ Tangki bahan bakar kendaraan/mesin sebaiknya dikuras untuk memastikan tidak ada kandungan monogliserida teroksidasi yang tertinggal”. 

Sebelum menyalakan mesin, ada baiknya untuk mengeringkan tangki bahan bakar dari air atau mengganti bahan bakar. Selang bahan bakar merupakan komponen vital yang harus diganti secara periodik setiap 4.000 jam atau dua tahun. Komponen lainyang perlu diganti secara teratur adalah bahan bakar, selang oli mesin maupun filter oli.

Deputi General Manager Quality Assyrance Department Komatsu Indonesia, Fahmi Azhari Mukhlis mengatakan bahan bakar melakukan kontak tidak hanya dengan satu jenis material, tetapi juga dengan material lainnya. 

“Semua material tersebut harus kompatibel dengan biodiesel”, tekan Fahami. 

Fahmi menjelaskan penangan biodiesel dan biodiesel campuran tidak sama dengan minyak solar, mengingat ada beberapa perbedaan sifat fisik dan kimia. Biodiesel memiliki karakter mudah terdegradasi ketika terkontaminasi air, lumpur, mikroba dan kontaminan lainnya. Beberapa logam akan mempercepat oksidasi biodiesel yang mengarah pada pembentukan material yang tidak larut, yang dapat mengurangi kinerja filter dan atau injektor. 

“Ketika terpapar dalam waktu lama,  biodiesel dapat mendegradasi hode, gasket, o-ring maupun seal”, pungkas Fahmi. 

Secara umum biodiesel memiliki karakteristik angka setana, berat jenis, viskositas kinematik, sifat pelumasan yang lebih tinggi dibandingkan minyak solar. Selain itu, biodiesel memiliki kandungan sulfur yang sangat rendah sehingga mendukung program penggunaan bahan bakar bebas sulfur, serta dapat diterapkan untuk menurunkan kandungan sulfur pada minyak solar. 

Di sisi lain, biodiesel mengandung pengotor dari sifat alamiahnya sebagai bahan bakar nabati. Selain komponen utama ester metil, biodiesel berpotensi mengandung kandungan monogliserida dan gliserol sebagai komponen pengotor pada transesterifikasi dan pemurnian biodiesel. Keberadaan senyawa tak jenuh dengan ikatan rangkap juga berpotensi menyebabkan stabilitas oksisdasi biodiesel lebih rendah dibandingkan minyak solar. Selain itu, sifat higroskopis biodiesel juga rentan menyebabkan peningkatan kandungan air pada bahan bakar campuran minyak solar-biodiesel. 

Beberapa penelitian sebelumnya mengkonfirmasi bahwa kandungan monogliserida jenuh menjadi penyebab permasalahan teknis terkait penyumbatan pada filter bahan bakar. Perbaikan batasan mutu kandungan monogliserida maksimal 0.55 persen massa, menjadi salah satu rekomendasi hasil uji jalan B30, dalam menyusun spesifikasi biodiesel untuk implementasi B30.


Hak Cipta © 2017 Badan Litbang ESDM
Badan Litbang ESDM
Jl.Ciledug Raya Kav.109 - Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12230 Indonesia
Telp. +62 (021) 72798311 Fax. +62 (021) 72798202